Kamis, 10 Oktober 2013

i was there,, at Papandayan

Setelah kemarin saya ke salah satu kota indah di Indonesia yaitu Jogjakarta, bulan ini saya melancong ke Gunung Papandayan, Garut (27-29 Sept 2013). Sebenernya saya gak pernah memasukkan gunung ke daftar kunjungan holiday. Dari dulu saya selalu takut untuk menuju kesana. Mungkin karena selama ini saya mendengar cerita-cerita yang menyeramkan dan gak hear cacthing buat didengar. Berawal dari ajakan seorang teman (sebut saja Vista) yang kerap ngajak saya buat hiking, tapi saya selalu menolak, selain karena alasan takut, juga karena pasti capek :P Entah kenapa, pas dia ngajak saya langsung bilang "MAU".

Jujur, saya gak punya satupun peralatan gunung. Jangankan sleeping bag atau tas Carrier, sendal gunung saja saya gak punya. So lucky for this trip we used porter to guide us, included bringin that's things. Tapi saya masih kelimpungan mengenai alas kaki dan Vista akhirnya meminjamkan saya sepatu gunungnya.

Dengan tas seadanya, dan jaket yang gak tebel-tebel amat, saya akhirnya berangkat ke Papandayan. Kumpul di lebak bulus, dan saya pun berkenalan dengan yang lain. Mas Febri, Mak Yenny, Egen, Vista, Lia, Lina, Mas Daus, Pak Jul, Pak Eko, Ade Lia, dan saya, kami melaju ke Garut. Didalam bis, saya duduk dengan si Kembar dengan posisi saya ditengah-tengah mereka. Gak perlu nunggu lama buat memutuskan untuk tidur, selain karena waktu sudah menunjukan pukul 21.30 WIB, kami juga harus istirahat, jaga stamina untuk lihat sunrise disana. Sekitar jam 02.00 dini hari, kami sampai di tempat penjemputan. Begitu keluar dari bis, saya cuma bisa ngrasain dingin, so cold!! Dan ternyata saudara-saudara kami harus naik pick up untuk ke Pos pertama. Bisa kebayang donk dinginnya. Jaket yang saya pakai gak mampu nahan dasyatnya angin. 1 jam kami bertahan dengan posisi duduk manis, gak bisa gerak karena saling mepet, akhirnya sampailah di Pos pertama. Anginpun semakin dingin. 

Setiap kedinginan, saya suka banget mengeluarkan udara dari mulut saya lalu kemudian meliat ada uap yang keluar. Cool :B

Kami numpang tidur di warung sekitar 1 jam, dan setelah itu kami putuskan untuk melihat sunrise. I always love SUN, either rise or set. Perjalanannya, aduuhh,, udah bisa bikin paru-paru kembang kempis, dan langsung kepikiran "gimana nanti siang?". But finally, we did it. Saya aja sih yang merasa berhasil, karena buat yang lain pendakian subuh itu STD alias biasa ajah :P

Hey Sunrise, we're here


Selesai itu, sebelum turun ke Pos kami di antar oleh Kang Asep untuk muter dulu untuk liat kawah asep (mengulang kata ASEP). Sepanjang perjalanan itu, saya sungguh terkagum melihat alam ini. Sampai ketika saya dan Vista duduk untuk menikmati sarapan pagi, saya bilang ke dia, "sekarang gw tau kenapa orang bisa suka naek gunung. Thanks for brought me here, Tong". Moment itu sungguh mellow, karena selain terharu oleh indahnya pemandangan, juga dikarenakan oleh rasa lapar, lelah dan ngantuk. 

After breakfast


Saya akan naro foto yang tanpa saya ceritakan, semua pasti tau maksudnya apa.

The twins is always fighting cause small thing, but somehow they always make me smile



Begitu sampai di warung persinggahan, saya dan Lina memutuskan untuk tidur, sementara yang lain memilih sarapan.  2 jam cukup Lin, let us get up and go to the top. Jam 10.30 siang, kami menuju ke Pondok Halimah.

Belum setengah perjalanan, saya udah keok. Tiba-tiba saya pusing, mual, kunang-kunang, dan keringet dingin. Untung ada bang Egen, dia kasih saya doping. Kenapa saya bilang doping? Karena hanya butuh hitungan detik, tiba-tiba saya jadi ON. Makin jauh, tracknya makin menggoda iman untuk menyerah. Saya mendaki hampir 90 derajat, cape, tapi menyenangkan. Dan akhirnya, saya kuat sampai di pondok Halimah. Yang cewe-cewe tidur siang, yang cowo-cowo bikin tenda. Dunia memang adil yah :)

This is our tenda

Tadinya pada mau liat sunset tapi ada daya godaan untuk tidur lebih menggoda. Hehehe...
Menu makan malam kami bisa dibilang cukup mewah untuk ukuran kemping. Ayam Bakar Nasi Liwet lengkap dengan sayuran dan sambel kecap. Yummy. Kami sepakat kalo ini adalah piknik bukan survival :D

Selesai candle light dinner, kami memutuskan untuk ngopi-ngopi dan melihat bintang. Ini malam kedua saya melihat lautan bintang di Langit Garut. Mata menangkap bintang jatuh berkali-kali, kira-kira doa saya yang mana yah yang dikabulkan?? Karena malam semakin menusuk, kami putuskan untuk tidur.

Minggu Pagi, 29 Sept 2013

Ini kedua kalinya saya melihat sunrise di langit Garut. So beautiful, subhanallah, so speechless. Hutan mati adalah tempat yang perfect buat poto-poto, and we know it well ..

I really love this picture


Pulang melihat Sunset, kami kembali ke camp dan bersiap-siap untuk ke tempat Edelwis. Disana kami kelompoknya kepecah. Saya, Lina, Pak Jul, Pak Eko, Ade Lia, dan Mak Yenny niatnya mau cari mata air, eh gak taunya kami nyasar. Sedangkan yang lain sudah berenang dengan senangnya di air sungai. But its okey, karena setiap detik disana mampu menyenangkan hatiku. #aih..

Setelah semua ketemu, akhirnya kami turun gunung. Tracknya lebih parah daripada naiknya. Terjal dan di sisi kanan adalah jurang. Seingat saya, saya jatuh hampir 3x karena keberatan bawa tas. Kami istirahat sebentar untuk makan siang. Setelah makan, lanjut lagi poto-potonya. 
We fly so high, girls :)



Makan sudah, Foto-foto sudah, mari kita lanjutkan perjalanan. Kami melipir ke bathup alam, yaitu sungai belerang. It such a nice place. Kelar mandi, kami lanjutkan perjalanan turun ke Pos. Ditengah perjalanan, kaki kiri saya terasa sakit sekali seperti ditusuk seribu jarum. Berkali-kali saya harus berhenti dan istirahat. What i love the most from this journey is we share the joy and sorrow. Lia dan Lina bergantian membawakan tas saya, Egen dan Pak Jul juga turut membantu saya. I'm so thankfull to them.

Dan akhirnya sampailah kami di Pos. Syukur alhamdulillah, begitu kami semua sampai di Warung, hujanpun turun dengan derasnya. Setelah hujan reda, akhirnya kami pulang dengan menggunakan Pick Up (lagi). Still fun and obviusly fun.


After Rain

Cerita selanjutnya hanyalah perjalanan kami ke Jakarta.

Well,, saya akhirnya bisa menaklukan rasa khawatir saya mengenai gunung, malah saya ketagihan untuk naik gunung lagi. Thanks for those great memory, i wont forget all of you :*