Kamis, 28 November 2013

Stay True To Ourself

I've leard that nothing last forever ....

Okey, tulisan ini terinspirasi dari seorang teman yang tiba-tiba nyeletuk "can i have you for long term, Gah?!". Saat itu saya tidak bisa menjawab iya ataupun tidak. Dilema. Rasanya saya ingin sekali bilang, "Of course you can", tapi tiba-tiba lagu Ran yang judulnya "Nothing Last Forever"pun mengalun tanpa ijin di telinga saya yang membuat saya menjawab " You can have me as long Allah permitted us, darling". Ihiy,, bijak banget yah :)

Recently, I face a beautiful event. Meet new people, learn new thing, laugh for new reason, smile for gorgeus things, and feeling blessed with my life.

Di kantor, udah kurang lebih 5 bulan ini, saya up and down. Saat ini merasa lebih banyak downya, hehehe. But i'm gonna through this :) Yang sulit dari pekerjaan saya saat ini adalah, bukan pekerjaannya tapi menterjemahkan kemauan My Big Boss. Tapi berkat disini, saya jadi yakin bahwa profesi sebagai Personal Asisstance is not me at all, and i donna wanna do this anymore. I'll find my way to get what i need for my career. Amiin.

My Friends Life...
Alhamdulillah, so far is awesome. Have new friends from Papandayan, from guitar community, and with old friends who still stick around me.

Have a good story when i bought Guitar. Saya mengajak dua teman baik saya, Ressi dan Lina untuk menemani saya membeli Gitar di daerah Grogol. Perasaan saya mengenai Gitar tersebut adalah pastinya bahagia dan alhamdulillah. Tapi hari itu, yang paling saya ingat adalah mereka bisa blend each other. Saya paling senang apabila saya bisa menyambung tali pertemanan antara kedua teman saya yang sebelumnya gak saling kenal. I'm glad that they can fill each other.

The next day, me and Lina going to Asemka and Pasar Baru. Hobby banget buat isengin dia. I really enjoy my time with her, with everyone who can make me smile and laugh. I wish one day i can wrote a story about her.

Seharian gak dapet inspirasi apa-apa.. cuma bisa cerita segitu ajah...
what a unimportant things to share!!!
hahaha,,,

Kamis, 10 Oktober 2013

i was there,, at Papandayan

Setelah kemarin saya ke salah satu kota indah di Indonesia yaitu Jogjakarta, bulan ini saya melancong ke Gunung Papandayan, Garut (27-29 Sept 2013). Sebenernya saya gak pernah memasukkan gunung ke daftar kunjungan holiday. Dari dulu saya selalu takut untuk menuju kesana. Mungkin karena selama ini saya mendengar cerita-cerita yang menyeramkan dan gak hear cacthing buat didengar. Berawal dari ajakan seorang teman (sebut saja Vista) yang kerap ngajak saya buat hiking, tapi saya selalu menolak, selain karena alasan takut, juga karena pasti capek :P Entah kenapa, pas dia ngajak saya langsung bilang "MAU".

Jujur, saya gak punya satupun peralatan gunung. Jangankan sleeping bag atau tas Carrier, sendal gunung saja saya gak punya. So lucky for this trip we used porter to guide us, included bringin that's things. Tapi saya masih kelimpungan mengenai alas kaki dan Vista akhirnya meminjamkan saya sepatu gunungnya.

Dengan tas seadanya, dan jaket yang gak tebel-tebel amat, saya akhirnya berangkat ke Papandayan. Kumpul di lebak bulus, dan saya pun berkenalan dengan yang lain. Mas Febri, Mak Yenny, Egen, Vista, Lia, Lina, Mas Daus, Pak Jul, Pak Eko, Ade Lia, dan saya, kami melaju ke Garut. Didalam bis, saya duduk dengan si Kembar dengan posisi saya ditengah-tengah mereka. Gak perlu nunggu lama buat memutuskan untuk tidur, selain karena waktu sudah menunjukan pukul 21.30 WIB, kami juga harus istirahat, jaga stamina untuk lihat sunrise disana. Sekitar jam 02.00 dini hari, kami sampai di tempat penjemputan. Begitu keluar dari bis, saya cuma bisa ngrasain dingin, so cold!! Dan ternyata saudara-saudara kami harus naik pick up untuk ke Pos pertama. Bisa kebayang donk dinginnya. Jaket yang saya pakai gak mampu nahan dasyatnya angin. 1 jam kami bertahan dengan posisi duduk manis, gak bisa gerak karena saling mepet, akhirnya sampailah di Pos pertama. Anginpun semakin dingin. 

Setiap kedinginan, saya suka banget mengeluarkan udara dari mulut saya lalu kemudian meliat ada uap yang keluar. Cool :B

Kami numpang tidur di warung sekitar 1 jam, dan setelah itu kami putuskan untuk melihat sunrise. I always love SUN, either rise or set. Perjalanannya, aduuhh,, udah bisa bikin paru-paru kembang kempis, dan langsung kepikiran "gimana nanti siang?". But finally, we did it. Saya aja sih yang merasa berhasil, karena buat yang lain pendakian subuh itu STD alias biasa ajah :P

Hey Sunrise, we're here


Selesai itu, sebelum turun ke Pos kami di antar oleh Kang Asep untuk muter dulu untuk liat kawah asep (mengulang kata ASEP). Sepanjang perjalanan itu, saya sungguh terkagum melihat alam ini. Sampai ketika saya dan Vista duduk untuk menikmati sarapan pagi, saya bilang ke dia, "sekarang gw tau kenapa orang bisa suka naek gunung. Thanks for brought me here, Tong". Moment itu sungguh mellow, karena selain terharu oleh indahnya pemandangan, juga dikarenakan oleh rasa lapar, lelah dan ngantuk. 

After breakfast


Saya akan naro foto yang tanpa saya ceritakan, semua pasti tau maksudnya apa.

The twins is always fighting cause small thing, but somehow they always make me smile



Begitu sampai di warung persinggahan, saya dan Lina memutuskan untuk tidur, sementara yang lain memilih sarapan.  2 jam cukup Lin, let us get up and go to the top. Jam 10.30 siang, kami menuju ke Pondok Halimah.

Belum setengah perjalanan, saya udah keok. Tiba-tiba saya pusing, mual, kunang-kunang, dan keringet dingin. Untung ada bang Egen, dia kasih saya doping. Kenapa saya bilang doping? Karena hanya butuh hitungan detik, tiba-tiba saya jadi ON. Makin jauh, tracknya makin menggoda iman untuk menyerah. Saya mendaki hampir 90 derajat, cape, tapi menyenangkan. Dan akhirnya, saya kuat sampai di pondok Halimah. Yang cewe-cewe tidur siang, yang cowo-cowo bikin tenda. Dunia memang adil yah :)

This is our tenda

Tadinya pada mau liat sunset tapi ada daya godaan untuk tidur lebih menggoda. Hehehe...
Menu makan malam kami bisa dibilang cukup mewah untuk ukuran kemping. Ayam Bakar Nasi Liwet lengkap dengan sayuran dan sambel kecap. Yummy. Kami sepakat kalo ini adalah piknik bukan survival :D

Selesai candle light dinner, kami memutuskan untuk ngopi-ngopi dan melihat bintang. Ini malam kedua saya melihat lautan bintang di Langit Garut. Mata menangkap bintang jatuh berkali-kali, kira-kira doa saya yang mana yah yang dikabulkan?? Karena malam semakin menusuk, kami putuskan untuk tidur.

Minggu Pagi, 29 Sept 2013

Ini kedua kalinya saya melihat sunrise di langit Garut. So beautiful, subhanallah, so speechless. Hutan mati adalah tempat yang perfect buat poto-poto, and we know it well ..

I really love this picture


Pulang melihat Sunset, kami kembali ke camp dan bersiap-siap untuk ke tempat Edelwis. Disana kami kelompoknya kepecah. Saya, Lina, Pak Jul, Pak Eko, Ade Lia, dan Mak Yenny niatnya mau cari mata air, eh gak taunya kami nyasar. Sedangkan yang lain sudah berenang dengan senangnya di air sungai. But its okey, karena setiap detik disana mampu menyenangkan hatiku. #aih..

Setelah semua ketemu, akhirnya kami turun gunung. Tracknya lebih parah daripada naiknya. Terjal dan di sisi kanan adalah jurang. Seingat saya, saya jatuh hampir 3x karena keberatan bawa tas. Kami istirahat sebentar untuk makan siang. Setelah makan, lanjut lagi poto-potonya. 
We fly so high, girls :)



Makan sudah, Foto-foto sudah, mari kita lanjutkan perjalanan. Kami melipir ke bathup alam, yaitu sungai belerang. It such a nice place. Kelar mandi, kami lanjutkan perjalanan turun ke Pos. Ditengah perjalanan, kaki kiri saya terasa sakit sekali seperti ditusuk seribu jarum. Berkali-kali saya harus berhenti dan istirahat. What i love the most from this journey is we share the joy and sorrow. Lia dan Lina bergantian membawakan tas saya, Egen dan Pak Jul juga turut membantu saya. I'm so thankfull to them.

Dan akhirnya sampailah kami di Pos. Syukur alhamdulillah, begitu kami semua sampai di Warung, hujanpun turun dengan derasnya. Setelah hujan reda, akhirnya kami pulang dengan menggunakan Pick Up (lagi). Still fun and obviusly fun.


After Rain

Cerita selanjutnya hanyalah perjalanan kami ke Jakarta.

Well,, saya akhirnya bisa menaklukan rasa khawatir saya mengenai gunung, malah saya ketagihan untuk naik gunung lagi. Thanks for those great memory, i wont forget all of you :*

Rabu, 28 Agustus 2013

Tempat itu bernama Jogjakarta...

Dreams come true..

Itulah kalimat yang tepat untuk menyimpulkan perasaan saya saat ini...

Jogja adalah tempat yang paliiiiinnngg saya ingin kunjungi sejak saya SMP. Ketika itu, di SMP saya ada acara jalan-jalan ke Borobudur, semua anak ikut kecuali saya dan temannya yang saat itu sakit. Alasan kenapa saya tidak ikut adalah karena finansial. Dan semenjak itulah, Jogja dan Borobudur menjadi destinasi impian saya.

Setelah hampir 13 tahun lamanya, akhirnya saya bisa menginjakkan kaki saya disana.

23 Agustus 2013

Demi untuk bisa keluar kantor lebih cepat dari biasanya, saya sampai tidak makan siang untuk nyelesein kerjaan saya. Sampai pada target jam yang sudah saya ditentukan ternyata pekerjaan saya dinyatakan belum layak untuk ditinggalkan. Alhasil, seharusnya saya ijin jam 4 jadinya saya pulang sesuai dengan selesai jam kantor, itupun belum semuanya selesai. *calon di cap jelek

Bersyukur saya punya teman baik yang mau menunggu selama 1 jam didepan kantor untuk mengantar saya ke Pulogadung. Saya mengalami awal yang sedikit tidak mengenakan dimana saya ditipu untuk menaiki bus antar propinsi bukan bis Travel. Tapi ya sudahlah, saya akan tetap menikmati perjalanan ini.

24 Agustus 2013

Akhirnya saya putuskan untuk langsung ke Magelang. Disana ada mertua kakak kedua saya, mereka mau berbaik hati menemani saya ke Borobudur.

Pukul 12.55, saya tiba di salah satu keajaiban dunia, Candi Borobudur. Cuaca saat itu terik sekali, kepala saya sampai sakit, tapi daripada ngeluh lebih baik saya (lagi-lagi) menikmatinya saja. 
Setelah hampir satu jam lamanya saya "berjemur", akhirnya saya say goodbye sama Borobudur. Puas rasanya..

Sore hari..

Saya putuskan untuk langsung ke Jogja daripada menginap di Magelang. Akhirnya, saya diantar ke Malioboro dan mereka kembali ke Magelang. 

Jogjaa,, sudah lamakah kau memanggilku?? Hehehehe....

Beruntung saya berhasil menemukan Penginapan murah di kawasan Sosrowijan. 100rb/malam. Itu harga termurah yang saya dapat  setelah muter-muter mencari penginapan di sepanjang Malioboro. Lokasinya dekat dengan Malioboro dan disana banyak makanan. 



Malam itu, saya mengunjungi Pohon Beringin. Saya sukses melewati pohon ituuu.. hehehehe *cuma bisa amin aja, semoga doanya terwujud. Karena lelah, saya langsung pulang dan tidur.

25 Agustus 2013

Jam 9, saya start jalan ke Keraton, kemudian ke Museum kereta, terakhir ke Prambanan.

Dikeraton, saya ada pengalaman yang menyebalkan. Saya mendapatkan tantangan dari seorang teman untuk foto bersama bule yang pakai kaos, celana pendek, nenteng kamera, dan bawa ransel. Akhirnya saya menemukannya, tapi mereka menolak karena bagi mereka itu aneh. *BT

BT saya terbayar ketika saya di Prambanan. Waktu lagi foto didepan salah satu candi, ada 2 bule dari London yang mengikuti gaya saya, tiba-tiba saya reflek mengajak mereka untuk berfoto bersama dan mereka MAUUUU...* huhuhu,, gak jadi kalah tarohan deh..


Prambanan keren banget, pengen kesana lagiii....

Hari terakhir di Jogja, saya mampir ke salah satu Cafe di dekat penginapan. Saya tertarik kesana karena saya melihat ada bas besar (yang mainnya sambil berdiri), dan itu asik banget. Sayangnya, mereka gak perform klo hari minggu. Akhirnya, saya ngobrol dengan beberapa orang yang nongkrong disitu. Saya tau mereka setengah mabok, tapi saya merasa aman. Jam 11, saya pulang dan rapih-rapih karena saya take off jam 7 pagi. Jaga-jaga kalau saya ketiduran dan bangunnya mepet saya bisa langsung cus ke bandara. Dan, firasat itu terjadi di pagi harinya. Saya bangun kesiangan, buru-buru mandi dan lari cari taksi ke bandara. Untung bisa online cek in, selamet deh.

26 Agustus 2013

Jakarta,, i'm back.....

Begitu landing langsung naek Damri dan meluncur ke kantor.

Kaki saya rasanya mau patah,, karena disana kebanyakan jalan kaki. Tapi semua terbayar. Tempat-tempat yang mau saya datangi, sudah menyambut saya dengan ramahnya.

Terima kasih Tuhan atas kesempatannya..
Terima kasih Bapak Ndut karena mau jemput dan mengantar ke Borobudur dan Jogja.
Terima kasih Mas Yudi (teman baru  di Jogja) yang udah mau bantuin cari Penginapan.
Terima kasih Aji dan Reza yang ngijinin saya maenin bas betotnya.. susah banget!!
Terima kasih Jogja,, semoga bisa kesana lagi. Amiin.

Selasa, 30 Juli 2013

My Almost Everything

Tulisan ini saya copy dari blog salah satu teman baik saya. Kenapa saya mengcopy punya dia? Karena saya gak tau gimana caranya memasukkan link Blognya di blog saya,, sesimple itu. Heheheh!!
 
***************************************************************


Stay true behind her back


Quote ini terlintas begitu saja ketika saya mendengarkan cerita salah satu teman "udek-udek" saya. Udek-udek means bongkar otak untuk mencari ide baru.

Sebut saja Megah (nama sebenarnya), adalah teman yang sering sekali saya peras otaknya untuk membantu saya menemukan ide-ide yang bukan cemerlang, tapi cenderung ngaco tapi kadang mujarab.


Disuatu malam, ketika kami duduk di salah satu kedai kopi di Jakarta, saat saya cerita ke dia tentang tantangan baru untuk karir blogging saya, dia memberi saya angin baru untuk beberapa ide program yang hampir membuat saya desperado.

She's lucky, her lucky, they lucky...

Ketika itu dia bercerita tentang Sahabatnya yang bernama Resi (nama sebenarnya). Saya terhitung sering mendengar cerita tentang persahabatan dari teman-teman sejawat, tapi baru cerita dia yang bisa membuat saya cengo. She always makes me like that!

Mereka sudah berteman kurang lebih 10 tahun. Mereka sama-sama murid di salah satu kursus Bahasa Asing, sama-sama berjiwa seni, dan sepertinya punya tipe pergaulan yang sama.

Tapi, karena saya cukup mengenal Mega, saya yakin Resi adalah teman yang hebat. Mega memang cukup friendly tapi hanya mereka yang punya "kelebihan" sajalah yang bisa bertahan untuk bisa berteman baik, setidaknya benar-benar berteman dengan baik. Bukan, saya tidak bilang Mega jahat atau punya semacam negatife behavior. Intinya saja yah, dia cukup aneh, tapi justru karena aneh akhirnya dia bisa "menyaring" siapa teman dia yang sebenarnya.

Ok, enough tentang Mega. Let's we talk about: Resi dimata Mega

"You know what, Na? Gw ngerasa pertemanan gw yang hampir 10 tahun ini tuh kado yang selalu gw syukurin dari Tuhan". Itu kalimat yang membuat saya tertarik untuk tau lebih jauh tentang pertemanan mereka.

Saya sendiri bingung bagaimana mereka bisa tetap awet satu sama lain. Sedangkan, kadang sama teman satu sekolah atau kuliah saja saya jarang ketemu. 

Mereka pernah terpisah ketika Resi harus kuliah di Bandung selama 4 tahun. Setelah selesai kuliahpun mereka masih tidak berada di satu kota. Resi di mutasi dibeberapa kota, dan Mega tetep di Jakarta. Dan (kalo gak salah karena lupa) baru November 2012 akhirnya mereka bisa ada di bawah langit yang sama yaitu JAKARTA.

Setelah sama-sama di Jakarta apakah mereka jadi sering bertemu? Oh tentu tidak!! Kepindahan Resi ke Jakarta justru malah memangkas waktunya. Makanya teman saya itu suka meluangkan waktu untuk sesekali jemput Resi ke kantornya. FYI... Kantor teman saya itu di Sunter Jakarta Utara dan kantor Resi di Gedung Pena (pasti tau kan itu dimana?!). Saya sih sempet heran, tapi karena subjeknya Megah Catur, saya urungkan keheranan saya, buang energi :D

Hoooaaamm,, ngantuk #gak penting


OK, mari kita persingkat!!

Saya terinspirasi dari mereka berdua. Dari sisi Mega, saya belajar bahwa se-minus apapun karakter kita, Tuhan tetap berbaik hati mengirimkan kita teman yang baik yang mampu mengisi dan melengkapi. Dari sisi Resi, saya memahami bahwa kesabaran adalah kemampuan manusia yang paling patut untuk dimiliki.

Mega, teman baik saya, adalah orang yang meyakini saya bahwa penakut itu bukan pilihan. Mega, teman baik saya, adalah orang yang mau memberikan waktu, semepet apapun untuk saya. Mega, adalah teman saya, yang gemar bercerita dan doyan mengambil makna dari kejadian sekecil apapun. Mega, teman baik saya, yang mempunyai orang-orang baik disekitarnya, termasuk Resi. Mega, teman baik saya, semoga semoga kita bisa seawet formalin. Wakikiik...


Senin, 22 Juli 2013

Mudah baginya...

Kamu tahu apa perbedaan terbesar kita?
Bukan,, bukan agama kita.
Bukan warna kulit kita.
Bukan paras kita.
Bukan berat badan kita.
Bukan pekerjaan kita.
Apapun yang ada di otakmu, aku berani jamin kalau bukan itu jawabannya.

Kamu lebih kuat
Kamu lebih mudah berlari ketika aku sibuk bangkit
Tapi kamu sempat teriak, "be strong!", dan aku hanya bisa menggeleng.
"Gw gak sekuat lo" aku menjawab, dan kamu hanya melepas nafas, mengalihkan mata memandang selain aku.
Dari sanalah aku meyakini  bahwa hari itu kamu melepasku. Dan aku takut!

Kamu selalu bisa memilih hati siapa yang bisa kamu patahkan.
Kamu selalu bisa menunjuk siapa yang akan kamu pilih untuk di peluk.
Kamu selalu bisa meminta harapan dari siapa saja untuk dihancurkan.
Dan kamu selalu bisa tersenyum puas setelahnya.

Semua mudah bagimu, tapi tidak dengan ku.
Seperti menjentikkan jari dan sedikit adakadabra, semua kau hancurkan.
Sungguh prestasi yang patut aku tiru.
Untukku kelak membuatmu merasakan semua itu.

Jadi, sekarang kamu sudah tahu perbedaan kita?
Aku punya dendam tapi kamu tidak!!

*) inspired by gotye-now you just somebody that i used to know

Selasa, 16 Juli 2013

Masa Kecil Si Bontot

Dua bocah di rumahku tinggal, kerap sekali ribut sampai-sampai mereka harus cakar-cakaran untuk memperebutkan seonggok IPAD. Sebuah benda berbentuk kotak simetris dengan minim tombol karena hampir semuanya bisa beroperasi hanya dengan satu telunjuk a.k.a cukup disentuh saja. Seperti yang kita tahu, jaman sekarang, benda-benda seperti itulah yang ada digenggaman bocah masa kini.

Saya sendiri sering ngomelin kakak beradik ini, Sausan dan Salma. Sausan yang notabennya lebih tua dari Salma, suka memonopoli Ipadnya dan Salma harus ekstra sabar untuk nunggu kakaknya bosen yang pastinya memakan waktu sampai berhari-hari (gak deng :P). Untungnya Salma masih bisa dialihkan ke permainan lain dan inilah kesempatan saya untuk mengenalkan permainan-permainan jaman saya kecil dulu.

Saya berfikir, jika anak-anak jaman sekarang ini tiba-tiba diculik oleh mesin waktu untuk kembali ke 20 tahun dari sekarang dimana mainan di jaman itu (menurut saya) lebih seru dan mendidik. Karena rata-rata permainan ini membutuhkan kerjasama dan daya saing tinggi tapi gak pake ngotot (paling kalo kalah maen kata-kataan :D)

1. Congklak

Memang mainan ini hanya bisa dimainkan cuma dua orang saja. Tapi, dibutuhkan keahlian berhitung yang cepat dan strategi yang matang. Gimana enggak, supaya biji congklak kita gak jatuh dilahan kosong, kita harus tau jumlah biji yang mau kita ambil dan berapa lobang yang harus kita lalui supaya gak mati-mati. Saya ingat banget gimana marahnya saya sama kakak perempuan saya karena saya kalah 3 kali berturut-turut. Sekarang sih kalo diinget, rasanya konyol banget karena gara-gara gengsi udah kalah berkali-kali akhirnya saya marah-marah dan nangis menghadap ke tembok ( tepok jidat), padahal saat itu saya lapar dan pengen banget nonton Knight Rider. Tapi mau gimana lagi selain cuma liat tembok?!

2. Lompat karet

Dulu, waktu jaman SD, semakin tinggi cewe, semakin dideketin buat dijadiin tim Lompat Karet. Salah satunya saya (heheheeh)!! Siapa yang gak tau permainan ini? Eksis atau tidaknya sebuah Geng di SD, ditentukan dari berapa kalinya mereka menang ngadu Lompat Karet. Permainan ini bisa dimainkan sampe se RT dan RW. Ada dua jenis permainan (saya lupa namanya), yang satu cukup dibentangkan saja dan tugas lawan hanya tinggal lompat-lompat saja. Yang satu lagi, karetnya diputer-puter, lawan harus terus lompat sampai hitungan ke delapan, yang ini, cape banget! Untuk menghasilkan tali karet yang panjang dan seksi, kita pasti ngumpulin karet hasil dari belanjaan ibu. Biasanya dua karet dijadiin satu lalu disimpulkan dengan yang lainnya. Gak jarang ada yang bikin tali karet sampe hampir 5 rangkap karet, itu biasanya untuk kelas kakap karena tali karet sejenis ini cenderung sakit kalo kena kulit kaki dan paha.

3. Galasin

Sama seperti Karet, Galasin juga salah satu permainan bergensi di SD dan dimanapun. Ciri-ciri penggemar Galasin adalah gak bisa liat lapangan atau jalanan kosong dikit. Mainan ini maksimal dimainkan oleh 8 orang, 4 orang jaga, sisanya yah lawan. Skill yang dibutuhkan dalam permainan ini adalah kegesitan dan kemampuan ngeles yang di atas rata-rata. Jangan sampe kejebak di baris ke tiga apalagi kalo sampe ke isi 3 orang dan 1 orang sisanya berada di paling belakang. Kalo udah begitu, hanya azdan Magriblah yang memisahkan mereka karena pilihannya kalo gak nekat yang ujung-ujungnya kena, ya kalo enggak diem aja sampe bosen.

Biasanya cewe-cewe suka hati-hati kalo maennya sama cowo, karena, yeah you know, mereka para lelaki suka nyambi buat nyolek-nyolek cewe.

4. Demprak

Ini salah satu permainan yang minim alat, karena cuma modal lahan 2x2, batu merah / kapur tulis untuk gambar pola (kalo gak ada dua-duanya, biasanya maen dirumah pake Ubin sebagai pola pembatasnya), dan beberapa serpihan batu dari Gypsum yang suka sengaja di retak-retakin. Permainan ini cukup mudah, kita hanya perlu keseimbangan dan lompatan yang jenjang untuk bisa memenangkannya.

5. Layangan.

Mainan yang satu ini indentik Genderanisasi (eh, istilahnya bener gak yah?!). Walaupun lebih sering dimainkan oleh laki-laki, saya gak pantang buat mainan ini. Dari permainan ini kita bisa ngerasain jadi PELAUT, karenaaaa kita belajar cari mata angin untuk memaksimalkan terbangnya dari layangan kita. Kalo ada Lewang (sebutan buat layangan yang talinya putus tiba-tiba mengakibatkan layangan terbang kesana kemari mengikuti arah angin sampai akhirnya si layangan itu hinggap ditempat yang dia sukai), pasti hampir semua anak yang lihat ikutan ngejar dan biasanya langsung pada lesu kalo ternyata layangannya nyangkut di tiang listrik atau di genteng orang (sesuai doa sang Empu).

6. Main tak Umpet dan Tak Kena Jongkok

Dua permainan ini gak kalah populer karena sampai sekarang saya masih lihat ada yang memainkannya, which is good :) Seperti namanya, mainnya cukup mudah, dua-dua mengandalkan kekuatan lari. Yang satu untuk buru-buru nepok benteng, yang satu buat ngejar temen yang bisanya cuma jongkok.. Hehehe!

Sebenernya masih banyak banget permainan waktu saya kecil. Hompimpa, Domikado, Sembunyi Batu, Tepok Stiker, Minta Anak (si miskin minta anak sama si kaya, dan karena dimintain terus lama-lama si Miskin jadi kaya anak), dan lainnya (memory tiba-tiba low :P)

Satu ledekan yang sering sekali saya terima dari beberapa teman saya ketika saya asik memainkan game atau permainan anak kecil masa kini, "Masa kecil loe kurang bahagia yah?". Setiap mereka bilang seperti itu, saya hanya tersenyum lalu kemudia mengeluarkan dua tanduk yang tiba-tiba berasap. NOOOOO... not like that. Saya justru bahagia dengan masa kecil saya, HARUS, karena kita kecil cuma sekali dan saya melewati masa kecil yang sederhana tapi bahagia. 

Makanya saya sering bilang kalo semakin kita bahagia oleh hal-hal yang sederhana, semakin kita dihadapkan oleh lebih banyak bahagia. Berbahagialah tanpa syarat dan jangan lupa berbagi kebahagian. Seperti permainan-permainan diatas, kita bermain dengan banyak orang maka sebanyak itulah kita membagi kesenangan dan tertawa kita (supporter juga dihitung yah). 

Coba sekarang kita bandingkan sama Games Gadget, games-games itu cuma bisa dinikmati sendiri kalaupun beramai-ramai harus menggunakan media pribadi, log in, bla bla bla... Jaman-jaman PS masih okeh lah walaupun gak pernah punya, hehehe..

So, in the end of story is, i have an awsome moment when i was a child and i thankfull for it.

Kamis, 11 Juli 2013

"Begin with Dream"

Saya punya 10 menit untuk menulis sebelum bos saya kembali.

Menulis apa yang mau saya tulis, walaupun saya gak tau mau nulis apa.

Tentang mimpi??

Sebangun dari tidur pagi ini, seingat saya, saya tidak mimpi apa2
Dan saya rasa, saya selalu menganggap kejadian2 dalam hidup saya adalah mimpi, walaupun tidak sempurna. Karena mimpi biasa memiliki akhir cerita yang gantung, kadang cerita tidak nyambung, bahkan mimpi kita sering kehadiran orang2 dari masa lalu, lebih parahnya lagi, orang2 yang kita gak kenal.

Sama, hidup saya kadang endingnya gak nyenengin, kedatangan orang2 lama yang dulu saya berusaha keras untuk menghindari dan menghapus mereka, sampai bertemu dengan orang2 baru yang menambah "pelajaran" buat "modal" saya kedepan.

Waktu menulis sisa 5 menit

Yasudlah,, rasanya ini cukup untuk mengawali tulisan saya.
;)