Selasa, 30 Juli 2013

My Almost Everything

Tulisan ini saya copy dari blog salah satu teman baik saya. Kenapa saya mengcopy punya dia? Karena saya gak tau gimana caranya memasukkan link Blognya di blog saya,, sesimple itu. Heheheh!!
 
***************************************************************


Stay true behind her back


Quote ini terlintas begitu saja ketika saya mendengarkan cerita salah satu teman "udek-udek" saya. Udek-udek means bongkar otak untuk mencari ide baru.

Sebut saja Megah (nama sebenarnya), adalah teman yang sering sekali saya peras otaknya untuk membantu saya menemukan ide-ide yang bukan cemerlang, tapi cenderung ngaco tapi kadang mujarab.


Disuatu malam, ketika kami duduk di salah satu kedai kopi di Jakarta, saat saya cerita ke dia tentang tantangan baru untuk karir blogging saya, dia memberi saya angin baru untuk beberapa ide program yang hampir membuat saya desperado.

She's lucky, her lucky, they lucky...

Ketika itu dia bercerita tentang Sahabatnya yang bernama Resi (nama sebenarnya). Saya terhitung sering mendengar cerita tentang persahabatan dari teman-teman sejawat, tapi baru cerita dia yang bisa membuat saya cengo. She always makes me like that!

Mereka sudah berteman kurang lebih 10 tahun. Mereka sama-sama murid di salah satu kursus Bahasa Asing, sama-sama berjiwa seni, dan sepertinya punya tipe pergaulan yang sama.

Tapi, karena saya cukup mengenal Mega, saya yakin Resi adalah teman yang hebat. Mega memang cukup friendly tapi hanya mereka yang punya "kelebihan" sajalah yang bisa bertahan untuk bisa berteman baik, setidaknya benar-benar berteman dengan baik. Bukan, saya tidak bilang Mega jahat atau punya semacam negatife behavior. Intinya saja yah, dia cukup aneh, tapi justru karena aneh akhirnya dia bisa "menyaring" siapa teman dia yang sebenarnya.

Ok, enough tentang Mega. Let's we talk about: Resi dimata Mega

"You know what, Na? Gw ngerasa pertemanan gw yang hampir 10 tahun ini tuh kado yang selalu gw syukurin dari Tuhan". Itu kalimat yang membuat saya tertarik untuk tau lebih jauh tentang pertemanan mereka.

Saya sendiri bingung bagaimana mereka bisa tetap awet satu sama lain. Sedangkan, kadang sama teman satu sekolah atau kuliah saja saya jarang ketemu. 

Mereka pernah terpisah ketika Resi harus kuliah di Bandung selama 4 tahun. Setelah selesai kuliahpun mereka masih tidak berada di satu kota. Resi di mutasi dibeberapa kota, dan Mega tetep di Jakarta. Dan (kalo gak salah karena lupa) baru November 2012 akhirnya mereka bisa ada di bawah langit yang sama yaitu JAKARTA.

Setelah sama-sama di Jakarta apakah mereka jadi sering bertemu? Oh tentu tidak!! Kepindahan Resi ke Jakarta justru malah memangkas waktunya. Makanya teman saya itu suka meluangkan waktu untuk sesekali jemput Resi ke kantornya. FYI... Kantor teman saya itu di Sunter Jakarta Utara dan kantor Resi di Gedung Pena (pasti tau kan itu dimana?!). Saya sih sempet heran, tapi karena subjeknya Megah Catur, saya urungkan keheranan saya, buang energi :D

Hoooaaamm,, ngantuk #gak penting


OK, mari kita persingkat!!

Saya terinspirasi dari mereka berdua. Dari sisi Mega, saya belajar bahwa se-minus apapun karakter kita, Tuhan tetap berbaik hati mengirimkan kita teman yang baik yang mampu mengisi dan melengkapi. Dari sisi Resi, saya memahami bahwa kesabaran adalah kemampuan manusia yang paling patut untuk dimiliki.

Mega, teman baik saya, adalah orang yang meyakini saya bahwa penakut itu bukan pilihan. Mega, teman baik saya, adalah orang yang mau memberikan waktu, semepet apapun untuk saya. Mega, adalah teman saya, yang gemar bercerita dan doyan mengambil makna dari kejadian sekecil apapun. Mega, teman baik saya, yang mempunyai orang-orang baik disekitarnya, termasuk Resi. Mega, teman baik saya, semoga semoga kita bisa seawet formalin. Wakikiik...


Senin, 22 Juli 2013

Mudah baginya...

Kamu tahu apa perbedaan terbesar kita?
Bukan,, bukan agama kita.
Bukan warna kulit kita.
Bukan paras kita.
Bukan berat badan kita.
Bukan pekerjaan kita.
Apapun yang ada di otakmu, aku berani jamin kalau bukan itu jawabannya.

Kamu lebih kuat
Kamu lebih mudah berlari ketika aku sibuk bangkit
Tapi kamu sempat teriak, "be strong!", dan aku hanya bisa menggeleng.
"Gw gak sekuat lo" aku menjawab, dan kamu hanya melepas nafas, mengalihkan mata memandang selain aku.
Dari sanalah aku meyakini  bahwa hari itu kamu melepasku. Dan aku takut!

Kamu selalu bisa memilih hati siapa yang bisa kamu patahkan.
Kamu selalu bisa menunjuk siapa yang akan kamu pilih untuk di peluk.
Kamu selalu bisa meminta harapan dari siapa saja untuk dihancurkan.
Dan kamu selalu bisa tersenyum puas setelahnya.

Semua mudah bagimu, tapi tidak dengan ku.
Seperti menjentikkan jari dan sedikit adakadabra, semua kau hancurkan.
Sungguh prestasi yang patut aku tiru.
Untukku kelak membuatmu merasakan semua itu.

Jadi, sekarang kamu sudah tahu perbedaan kita?
Aku punya dendam tapi kamu tidak!!

*) inspired by gotye-now you just somebody that i used to know

Selasa, 16 Juli 2013

Masa Kecil Si Bontot

Dua bocah di rumahku tinggal, kerap sekali ribut sampai-sampai mereka harus cakar-cakaran untuk memperebutkan seonggok IPAD. Sebuah benda berbentuk kotak simetris dengan minim tombol karena hampir semuanya bisa beroperasi hanya dengan satu telunjuk a.k.a cukup disentuh saja. Seperti yang kita tahu, jaman sekarang, benda-benda seperti itulah yang ada digenggaman bocah masa kini.

Saya sendiri sering ngomelin kakak beradik ini, Sausan dan Salma. Sausan yang notabennya lebih tua dari Salma, suka memonopoli Ipadnya dan Salma harus ekstra sabar untuk nunggu kakaknya bosen yang pastinya memakan waktu sampai berhari-hari (gak deng :P). Untungnya Salma masih bisa dialihkan ke permainan lain dan inilah kesempatan saya untuk mengenalkan permainan-permainan jaman saya kecil dulu.

Saya berfikir, jika anak-anak jaman sekarang ini tiba-tiba diculik oleh mesin waktu untuk kembali ke 20 tahun dari sekarang dimana mainan di jaman itu (menurut saya) lebih seru dan mendidik. Karena rata-rata permainan ini membutuhkan kerjasama dan daya saing tinggi tapi gak pake ngotot (paling kalo kalah maen kata-kataan :D)

1. Congklak

Memang mainan ini hanya bisa dimainkan cuma dua orang saja. Tapi, dibutuhkan keahlian berhitung yang cepat dan strategi yang matang. Gimana enggak, supaya biji congklak kita gak jatuh dilahan kosong, kita harus tau jumlah biji yang mau kita ambil dan berapa lobang yang harus kita lalui supaya gak mati-mati. Saya ingat banget gimana marahnya saya sama kakak perempuan saya karena saya kalah 3 kali berturut-turut. Sekarang sih kalo diinget, rasanya konyol banget karena gara-gara gengsi udah kalah berkali-kali akhirnya saya marah-marah dan nangis menghadap ke tembok ( tepok jidat), padahal saat itu saya lapar dan pengen banget nonton Knight Rider. Tapi mau gimana lagi selain cuma liat tembok?!

2. Lompat karet

Dulu, waktu jaman SD, semakin tinggi cewe, semakin dideketin buat dijadiin tim Lompat Karet. Salah satunya saya (heheheeh)!! Siapa yang gak tau permainan ini? Eksis atau tidaknya sebuah Geng di SD, ditentukan dari berapa kalinya mereka menang ngadu Lompat Karet. Permainan ini bisa dimainkan sampe se RT dan RW. Ada dua jenis permainan (saya lupa namanya), yang satu cukup dibentangkan saja dan tugas lawan hanya tinggal lompat-lompat saja. Yang satu lagi, karetnya diputer-puter, lawan harus terus lompat sampai hitungan ke delapan, yang ini, cape banget! Untuk menghasilkan tali karet yang panjang dan seksi, kita pasti ngumpulin karet hasil dari belanjaan ibu. Biasanya dua karet dijadiin satu lalu disimpulkan dengan yang lainnya. Gak jarang ada yang bikin tali karet sampe hampir 5 rangkap karet, itu biasanya untuk kelas kakap karena tali karet sejenis ini cenderung sakit kalo kena kulit kaki dan paha.

3. Galasin

Sama seperti Karet, Galasin juga salah satu permainan bergensi di SD dan dimanapun. Ciri-ciri penggemar Galasin adalah gak bisa liat lapangan atau jalanan kosong dikit. Mainan ini maksimal dimainkan oleh 8 orang, 4 orang jaga, sisanya yah lawan. Skill yang dibutuhkan dalam permainan ini adalah kegesitan dan kemampuan ngeles yang di atas rata-rata. Jangan sampe kejebak di baris ke tiga apalagi kalo sampe ke isi 3 orang dan 1 orang sisanya berada di paling belakang. Kalo udah begitu, hanya azdan Magriblah yang memisahkan mereka karena pilihannya kalo gak nekat yang ujung-ujungnya kena, ya kalo enggak diem aja sampe bosen.

Biasanya cewe-cewe suka hati-hati kalo maennya sama cowo, karena, yeah you know, mereka para lelaki suka nyambi buat nyolek-nyolek cewe.

4. Demprak

Ini salah satu permainan yang minim alat, karena cuma modal lahan 2x2, batu merah / kapur tulis untuk gambar pola (kalo gak ada dua-duanya, biasanya maen dirumah pake Ubin sebagai pola pembatasnya), dan beberapa serpihan batu dari Gypsum yang suka sengaja di retak-retakin. Permainan ini cukup mudah, kita hanya perlu keseimbangan dan lompatan yang jenjang untuk bisa memenangkannya.

5. Layangan.

Mainan yang satu ini indentik Genderanisasi (eh, istilahnya bener gak yah?!). Walaupun lebih sering dimainkan oleh laki-laki, saya gak pantang buat mainan ini. Dari permainan ini kita bisa ngerasain jadi PELAUT, karenaaaa kita belajar cari mata angin untuk memaksimalkan terbangnya dari layangan kita. Kalo ada Lewang (sebutan buat layangan yang talinya putus tiba-tiba mengakibatkan layangan terbang kesana kemari mengikuti arah angin sampai akhirnya si layangan itu hinggap ditempat yang dia sukai), pasti hampir semua anak yang lihat ikutan ngejar dan biasanya langsung pada lesu kalo ternyata layangannya nyangkut di tiang listrik atau di genteng orang (sesuai doa sang Empu).

6. Main tak Umpet dan Tak Kena Jongkok

Dua permainan ini gak kalah populer karena sampai sekarang saya masih lihat ada yang memainkannya, which is good :) Seperti namanya, mainnya cukup mudah, dua-dua mengandalkan kekuatan lari. Yang satu untuk buru-buru nepok benteng, yang satu buat ngejar temen yang bisanya cuma jongkok.. Hehehe!

Sebenernya masih banyak banget permainan waktu saya kecil. Hompimpa, Domikado, Sembunyi Batu, Tepok Stiker, Minta Anak (si miskin minta anak sama si kaya, dan karena dimintain terus lama-lama si Miskin jadi kaya anak), dan lainnya (memory tiba-tiba low :P)

Satu ledekan yang sering sekali saya terima dari beberapa teman saya ketika saya asik memainkan game atau permainan anak kecil masa kini, "Masa kecil loe kurang bahagia yah?". Setiap mereka bilang seperti itu, saya hanya tersenyum lalu kemudia mengeluarkan dua tanduk yang tiba-tiba berasap. NOOOOO... not like that. Saya justru bahagia dengan masa kecil saya, HARUS, karena kita kecil cuma sekali dan saya melewati masa kecil yang sederhana tapi bahagia. 

Makanya saya sering bilang kalo semakin kita bahagia oleh hal-hal yang sederhana, semakin kita dihadapkan oleh lebih banyak bahagia. Berbahagialah tanpa syarat dan jangan lupa berbagi kebahagian. Seperti permainan-permainan diatas, kita bermain dengan banyak orang maka sebanyak itulah kita membagi kesenangan dan tertawa kita (supporter juga dihitung yah). 

Coba sekarang kita bandingkan sama Games Gadget, games-games itu cuma bisa dinikmati sendiri kalaupun beramai-ramai harus menggunakan media pribadi, log in, bla bla bla... Jaman-jaman PS masih okeh lah walaupun gak pernah punya, hehehe..

So, in the end of story is, i have an awsome moment when i was a child and i thankfull for it.

Kamis, 11 Juli 2013

"Begin with Dream"

Saya punya 10 menit untuk menulis sebelum bos saya kembali.

Menulis apa yang mau saya tulis, walaupun saya gak tau mau nulis apa.

Tentang mimpi??

Sebangun dari tidur pagi ini, seingat saya, saya tidak mimpi apa2
Dan saya rasa, saya selalu menganggap kejadian2 dalam hidup saya adalah mimpi, walaupun tidak sempurna. Karena mimpi biasa memiliki akhir cerita yang gantung, kadang cerita tidak nyambung, bahkan mimpi kita sering kehadiran orang2 dari masa lalu, lebih parahnya lagi, orang2 yang kita gak kenal.

Sama, hidup saya kadang endingnya gak nyenengin, kedatangan orang2 lama yang dulu saya berusaha keras untuk menghindari dan menghapus mereka, sampai bertemu dengan orang2 baru yang menambah "pelajaran" buat "modal" saya kedepan.

Waktu menulis sisa 5 menit

Yasudlah,, rasanya ini cukup untuk mengawali tulisan saya.
;)